Sabtu, 26 Mei 2012

Jibril dan Cacing

Suatu hari Allah SWT memerintahkan Jibril menemui makhluk-makhluk-Nya. Pilihan pertama jatuh pada kerbau. Di siang yang panas itu, kerbau sedang berendam disungai. "Hai kerbau, apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor kerbau?"
"Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur karena Allah yang telah menjadikanku seekor kerbau, daripada dijadikan kelelawar yang mandi dengan kencingnya sendiri."

Jibril lalu pergi mendatangi kelelawar yang siang itu sedang tidur disebuah goa. "Hai kelelawar, apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor kelelawar?"
"Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah yang telah menjadikanku seekor kelelawar ketimbang cacing. Sudah tubuhnya kecil, tinggal ditanah, jalan pun menggunakan perut."

Mendengar jawaban itu Jibril segera pergi menemui cacing yang sedang merayap diatas tanah. "Hai cacing kecil, apakah kamu senang telah dijadikan Allah SWT sebagai seekor cacing?"
"Masya Allah, alhamdulillah, aku bersyukur kepada Allah yang telah menjadikanku seekor cacing, daripada dijadikan aku sebagai seorang manusia. Bila mereka tidak memiliki iman yang sempurna dan tidak beramal shalih, setelah mati, mereka akan disiksa selama-lamanya."

Apa yang dikatakan cacing kecil itu sungguh membuat kita, sebagai manusia, mestinya tersentak. Kita patut merenungkan firman Allah dalam surat Al-A'raf:179, "Mereka(manusia) memiliki mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, mereka memiliki telinga tapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat-ayat Allah, dan mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah. Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi."
Sungguh ironis, tatkala kita saksikan banyak manusia zaman sekarang yang masih bisa berlagak, tanpa beban, meski mereka adalah koruptor, penilap harta negara dan uang rakyat, membeli hukum dan keadilan dengan kekuasaan, merekayasa kondisi demi kejayaan pribadi, berpesta diatas penderitaan orang lain. Andai mereka sadar bahwa diri mereka tidak lebih mulia dari binatang ternak, seharusnya mereka malu berbuat seperti itu.

17 komentar:

  1. Super sekali. Nice post. *nyoba bikin SPAM*

    Aku baru kali ini denger cerita si cacing.. Jadi kita lebih malang dari cacing (kalo ga beriman)?

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha...

      lebih malang dari binatang yang kita anggap paling malang mbak, @.
      Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.

      Hapus
  2. bagi-bagi motivasi gan:
    "Bersyukur akan membuat hidup kita lebih bahagia"
    *ikutan nyoba komen spam. hehehehehe...

    btw, baru denger kisah ini lho.
    .>_<.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahaha.. sepertinya seru ye spam**an

      Hapus
  3. ada kisah cacing dan kotoran kesayangan... tapi nanti keliatan jelas di padang mahsyar. Yang jahat bentuknya sudah tidak kayak manusia lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah belum tahu tuh mbak, coba ceritain dunk :))

      Hapus
  4. tapi enak loh jadi manusia beriman dan beramal sholeh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. so pasti dunk mas rio :)), malah kewajiban kita itu, menjadi manusia beriman dan beramal sholeh :)

      Hapus
  5. Saya kira bahas buku cacing dan kotoran kesayangannya jg (spt mb Ami), ternyata bukan...
    tapi makasih loh mas untuk postnya, sudah mengingatkan kembali :)

    BalasHapus
  6. padahal manusia itu kedudukannya paling tinggi ya diantara makhluk lainnya, tapi karena ulahnya sendiri manusia bisa jadi paling rendah dan menjijikkan.. Nauzubillah

    BalasHapus
  7. salam gan ...
    menghadiahkan Pujian kepada orang di sekitar adalah awal investasi Kebahagiaan Anda...
    di tunggu kunjungan balik.nya gan !

    BalasHapus
  8. Isyhadu bi anna muslim :)

    BalasHapus
  9. kesadaran itu jarang dipunyai, tertutup oleh kesombongan

    BalasHapus
  10. kuatkan iman, tingkatkan taqwa---semakin hari semakin ke depan banyak sekali cobaannya...

    BalasHapus

have a question, just spill it :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...