Selasa, 21 Juni 2016

[THE POWER OF ISTIGFAR]

[THE POWER OF ISTIGFAR]
Kisah Imam Ahmad, penjual roti, dan istigfar.
Dikisahkan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bepergian untuk suatu keperluan sampai kemalaman di sebuah kampung. Karena tidak ingin merepotkan siapapun, beliaupun mampir ke sebuah masjid kecil untuk shalat sekaligus berniat bermalam disana. Seusai shalat, ia hendak merebahkan tubuh tua beliau di masjid kecil tersebut guna melepaskan sedikit kepenatan malam itu, tiba-tiba sang penjaga masjid datang dan melarang beliau tidur di dalamnya.
Sang penjaga tidak mengetahui bahwa, yang dihadapainya adalah seorang ulama besar. Sementara Imam Ahmad juga tidak ingin memperkenalkan diri kepadanya. Beliau langsung keluar dan berpindah ke teras masjid dengan niat beristirahat di luar masjid itu. Namun sang penjaga tetap saja mengusir beliau secara kasar dan bahkan sampai menarik beliau ke jalanan.
Tepat saat Imam Ahmad sedang kebingungan di jalan itu, melintaslah seseorang yang ternyata berprofesi sebagai pembuat dan penjual roti. Akhirnya dia menawari dan mengajak beliau untuk menginap di tempatnya, juga tanpa tahu bahwa, tamunya ini adalah Imam Ahmad bin Hanbal.
Ketika sampai di rumahnya, sang lelaki baik hati itupun segera mempersiapkan tempat bermalam untuk Imam Ahmad dan mempersilahkan beliau agar langsung istirahat. Sedangkan dia sendiri justru mulai bekerja dengan menyiapkan bahan-bahan pembuatan roti yang akan dijualnya esok hari.
Ternyata Imam Ahmad tidak langsung tidur, melainkan malah memperhatikan segala gerak gerik sang pembuat roti yang menjamu beliau. Dan ada satu hal yang paling menarik perhatian beliau dari lelaki ini. Yakni ucapan dzikir dan doa istighfar yang terus meluncur dari mulutnya tanpa putus sejak awal ia mulai mengerjakan adonan rotinya.
Imam Ahmad merasa penasaran lalu bertanya, “Sejak kapan Anda selalu beristighfar tanpa henti seperti ini?”
Ia menjawab, “Sejak lama sekali. Ini sudah menjadi kebiasaan rutin saya, hampir dalam segala kondisi.”
Sang Imam melanjutkan pertanyaan beliau, “Lalu apakah Anda bisa merasakan adanya hasil dan manfaat tertentu dari kebiasaan istighfar Anda ini?”
“Ya, tentu saja,” jawab sang tukang roti dengan cepat dan penuh keyakinan.
“Apa itu, kalau boleh tahu?,” tanya Imam Ahmad lagi.
Ia pun menjelaskan, “Sejak merutinkan bacaan doa istighfar ini, saya merasa tidak ada satu doapun yang saya panjatkan, melainkan selalu Allah kabulkan, kecuali satu doa saja yang masih belum terkabul sampai detik ini?”
Sang Imam semakin penasaran dan bertanya, “Apa gerangan doa yang satu itu?”
Si lelaki saleh ini pun melanjutkan jawabannya dan berkata, “Sudah cukup lama saya selalu berdoa memohon kepada Allah untuk bisa dipertemukan dengan seorang ulama besar yang sangat saya cintai dan agungkan. Beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal!”
Mendengar jawaban dan penjelasan terakhir ini, Imam Ahmad terhenyak dan langsung bangkit serta bertakbir, “Allahu Akbar! Ketahuilah wahai Saudaraku bahwa, Allah telah mengabulkan doamu!
Sang pembuat roti kaget dan penasaran, “Apa kata bapak? Doaku telah dikabulkan? Bagaimana caranya? Dimana saya bisa menemui Sang Imam panutan saya itu?”
Selanjutnya Imam Ahmad menjawab dengan tenang, “Ya. Benar, Allah telah mengabulkan doamu. Ternyata semua yang aku alami hari ini, mulai dari kemalaman di kampung ini, diusir sang penjaga masjid, bertemu dengan Anda di jalanan, sampai menginap di rumah ini, rupanya itu semua hanya merupakan cara Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya yang saleh. Ya, orang yang sangat ingin kamu temui selama ini telah ada di rumahmu, dan bahkan di depanmu sekarang. Ketahuilah wahai lelaki saleh, aku adalah Ahmad bin Hanbal…!”
Subhanallah, Allah SWT akan mengabulkan doa hamba-Nya yang senantiasa membaca istighfar.
Allah berfirman,”Maka aku katakan kepada mereka:”Mohonlah ampun (istighfar) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS.Nuh: 10-12).
Dari Ibnu Abbas r. a Rasulullah SAW Bersabda :”Siapa yang selalu beristighfar (meminta ampun kepada Allah), niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan bagi setiap kesempitan, kesenangan bagi setiap kesedihan dan memberi rezeki tanpa di duga olehnya. (HR. Abu Daud)

Minggu, 19 Juni 2016

PERJALANAN UMUR

*PERJALANAN UMUR*
*Ketika umur kita dibawah 10 tahun,* kita merasa bahwa bermain merupakan suatu yang sangat penting. 
Sebab itu,
Kita suka bermain. Pagi, sore, siang, malam, bermain terus.
*Ketika umur kita belasan tahun,* kita merasakan kebebasan itu lebih penting.
Sebab itu,
kita ingin menyuarakan pendapat sendiri.
Ingin suara didengar
Kita banyak memberontak dan sedikit keras kepala.
Kita mulai bandel dan tidak suka dengar nasihat.
*Beranjak ke umur 20-an,* kita merasakan pendidikan dan kerja begitu penting.
Sebab itu,
kita belajar sungguh-sungguh untuk memperoleh kerja yang sesuai.
Kadang-kadang kita menyesal, kenapa dulu tidak belajar sungguh-sungguh, biar dapat pekerjaan yang baik seperti kawan-kawan yang lain.
Alangkah ruginya kita telah berleha-leha sebelum ini.
*Meningkat ke umur 30-an,* kita semakin sadar bahwa keuangan itu sangat penting.
Sebab itu,
masa inilah kita membina hidup.
Membina keluarga.
Ingin membeli kendaraan, rumah, tanah, aset, melancong dan sebagainya.
*Namun akhirnya, kita pun memasuki fase 40-an.* Perkara yang paling penting dalam hidup ialah *kesehatan.*
Kekayaan dan lain-lain tidak berarti dengan kesehatan yang tidak memuaskan. Pada masa ini darah tinggi, diabetes, asam urat, kolesterol, jantung koroner dan lain-lain sedang melamar kita.
Masa inilah kita bisa menyesal karena sudah terlalu sering makan yang enak2 dan sibuk kerja sehingga lupa untuk bersenam dan menjaga kesehatan.
*Memasuki era 50-an,* tatkala kita sudah memiliki semua impian, akhirnya kita sadar bahwa perkara yang lebih penting dalam hidup ialah *kasih sayang.*
Kita sedikit kesunyian tatkala anak-anak sudah berumah tangga dan tinggal di tempat lain.
Anak-anak yang sibuk dengan kerjanya masing-masing menjadikan kita rindu saat-saat indah bersama mereka dahulu.
Rumah besar, mobil besar seakan-akan tidak lagi berarti.
*Kehidupan terus berjalan.*
*Tatkala memasuki usia 60-an,* kitapun semakin sadar bahwa hanya amal ibadahlah bekal yang akan dibawa ke alam sana.
Segala kemewahan dan kebendaan tidak lagi bermakna.
Kubur bakal menjemput kapan saja.
Mujurlah kita sempat sadar dan Allah masih membuka pintu taubat yang kita mohonkan.
Masih tersisa waktu untuk menambah bekal.
*Rosulullah SAW bersabda:*
*"Cari kesempatan yang lima, sebelum datang lima lainnya".*
1. Masa mudamu sebelum datang masa tua,
2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakit,
3. Masa kayamu sebelum datang masa miskin,
4. Masa luangmu sebelum datang masa sibuk,
5. Masa hidupmu sebelum datang kematian.”
(HR. Al Hakim)
*Mari siapkan bekal, hidup ini hanya sementara.

Sesungguhnya keabsahan suatu amal tergantung niatnya.

"Innamal a'maalu binniyaat"
Sesungguhnya keabsahan suatu amal tergantung niatnya.
"Wa innamaa likullim ri'im maa nawaa"
Dan sesungguhnya setiap orang akan menerima balasan sesuai dengan niatnya.
"Faman kaanat hijratuhuu ilallaahi wa rasuulihii fahijrotuhuu ilallaahi warasuulihi"
Hijrah keluar dari zona nyaman hendaknya dilandasi karena Allah dan RasulNya, yakni berorientasi kepada keteladanan Kanjeng Nabi dan pelaksanaannya semata-mata Lillaahi Ta'ala.
"Waman kaanat hijratuhu ilaa dunyaa yushiibuhaa au imra'atin yatazawajjuhaa, fahijratuhu ilaa maa hajara ilaihi"
Konflik kepentingan di saat keluar dari zona nyaman biasanya adalah duniawi, termasuk di dalamnya finansial materi dan hasrat birahi. Maka niat kita harus dipastikan lagi, agar tetap murni dilandasi keteladanan Kanjeng Nabi dan kepatuhan terhadap perintah Ilahi.
Reminder ini untuk memastikan kembali motivasi aktifitas yang kita lakukan, bahwa semua lafadh niat harus berakhiran dengan kalimat "Lillaahi Ta'ala".
Bila niatnya sudah benar dan keberhasilannya telah dimohonkan kepada Allah, maka tidak perlu khawatir. Semua yang terjadi pastilah terjadi dengan alasan yang baik dan diniatkan oleh Tuhan untuk kebaikan hambaNya yang sudah sedemikian tulus berniat kepadaNya. Bahkan seandainya ada sedikit sesi gagal, maka sesungguhnya kegagalan itupun adalah sarana Tuhan untuk membimbing ke arah kebaikan dirinya.

Selasa, 14 Juni 2016

HIDAYAH

HIDAYAH
@salimafillah
Mendengar Pak Iwan Setiawan, seorang wirausahawan dan Mas Angga, seorang mahasiswa; melantun syahadat dengan bergetar di Masjid Jogokariyan kemarin, rasanya ada yang bergemuruh dalam dada.
Kita selalu tertegun jika menyimak kisah bagaimana perjalanan seseorang hingga dikaruniai hidayah. Sesederhana apapun itu. Berpindah dari gelap pada cahaya tak selalu mudah, bahkan ujian pertama telah datang saat silaunya menusuk mata.
Tapi betapa beruntungnya, betapa bahagianya.
Alangkah mahalnya hidayah itu hingga seorang renta yang mengerahkan segenap jiwa raga dan segala miliknya untuk membela dan menjaga Kekasih Allah pun tidak mendapatkannya. Betapa mahalnya hidayah itu hingga ada begitu banyak insan yang disifati Al Quran, "'Amilatun Nashibah.. Tashlaa Naaran Haamiyah.. Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki neraka yang menyala-nyala."
Dan 'Umar menggumamkan ayat ini dalam perjalanannya ke Yerusalem, sembari menangis menatap seorang rahib yang khusyuk meratap di depan patung lelaki yang disalibkan.
Mari catat bahwa prinsip pertama memahami semua takdir adalah bahwa Allah Maha Adil, tidak pernah zhalim.
Maka pasti ada hikmah indah ketika Rasulullah menyampaikan bahwa ada seorang yang kita lihat beramal dengan amalan ahli neraka, lalu jarak antara dia dengan neraka hanya sejengkal; dan telah tertulis bahwa dia termasuk ahli surga sehingga di ujung hidup dia beramal dengan amalan ahli surga, maka diapun masuk surga.
Mari kita ulang: "Allah Maha Adil, tidak pernah zhalim."
Maka pasti ada hikmah indah ketika Rasulullah menyampaikan bahwa ada seorang yang kita lihat beramal dengan amalan ahli surga, lalu jarak antara dia dengan surga hanya sejengkal; dan telah tertulis bahwa dia termasuk ahli neraka sehingga di ujung hidup dia beramal dengan amalan ahli neraka, maka diapun masuk neraka.
Mari kita ulang: "Allah Maha Adil, tidak pernah zhalim."
Inilah penegasan agar kita yang mengaku beriman jangan pernah merasa aman-aman. Ketergelinciran itu sungguh banyak sebabnya. Maka merasa berhajat pada hidayah Allah adalah hal yang terus kita hidupkan sebagai pilar kehambaan. Itulah doa terpenting kita sesudah memuji Allah, sesudah mengharap rahmatNya, sesudah takut pada pengadilanNya, dan sesudah berikrar bahwa hanya padaNya kita menyembah dan mohon pertolongan.
"Indinash shiraathal mustaqim. Tunjukilah kami jalan yang lurus. "
Siapakah yang merasa aman dari ketergelinciran ini; sedang dosis yang ditetapkan Allah atas pinta hidayah itu sekurangnya adalah 17 kali sehari?
Siapakah yang merasa aman dari ketergelinciran ini; sedang untuk menjawab panggilan adzanpun kita harus menyatakan tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Dzat Yang Maha Tinggi?
Siapakah yang merasa aman dari ketergelinciran ini; sedang untuk membaca Al Quran saja kita diminta memulai dengan memohon perlindungan dari goda syaithan dan bergegas menyusuli shalat dan dakwah -bukan dosa- dengan istighfar?
Siapakah yang merasa aman dari ketergelinciran ini dengan berringan-ringan menyebut sesama sebagai fasik atau munafik; sedang Hasan Al Bashri ketika ditanya tentang kemunafikan maka dia menangis dan mengatakan, "Jika orang seperti 'Umar sangat takut bahwa dirinya termasuk orang munafik; tidakkah kita seharusnya amat curiga bahwa kita jauh lebih munafik? "
Siapakah yang merasa aman dari ketergelinciran ini dengan bermudah-mudah mengolok sesama karena dosanya; sedang Imam Ahmad ibn Hanbal pernah mengatakan, "Para pendahulu kami menyatakan, jika seorang mengejek sesama mukmin atas dosa yang dilakukannya, niscaya takkan mati dia itu sebelum melakukan maksiat yang sama. "
Ya Allah, jangan palingkan hati kami sesudah Engkau beri ia hidayah.. Yaa Muqaalibal Quluub, tsabbit quluubanaa 'alaa diinik..

MOHAMMAD ALI - WAYS OF LIFE

MUHAMMAD ALI 😇 😢.... MENJAWAB pertanyaan seorang anak tentang apa yang akan dilakukannya ketika ia pensiun dari bertinju, Muhammad Ali mengatakan sbb. "Hidup ini singkat. Berapa tahun kau habiskan untuk tidur, untuk bersekolah, melakukan perjalanan, menonton film, televisi, berolahraga, dll. Ketika kau sibuk mengurus keluarga dan anak-anakmu, tahu-tahu usiamu sudah 60 tahun. Padahal SEMUA yang kau lakukan itu bukan milikmu. Aku pernah bercerai. Keempat anakku kini memanggil bapak pada lelaki lain dan mereka tak pernah mengunjungiku lagi. Anak dan istrimu bukanlah milikmu". (Para penonton yang tersorot kamera terlihat terkesima)
"Lalu apa yang akan kulakukan setelah pensiun? Get ready to meet God. Bersiap menemui Tuhan. Kita semua akan mati, kapan pun tanpa kita tahu saatnya. Tuhan tidak peduli kau mengalahkan Joe Frazier atau George Foreman. Tuhan ingin melihat apa yang kau lakukan pada sesama. Yang paling penting dalam hidup adalah ketika kau mati apakah kau masuk surga atau neraka. Aku begitu takut masuk neraka. Mungkin saja aku membunuh atau merampok orang. Barangkgali polisi tak dapat menangkapku, tapi ketika aku mati ada yang mencatat semua perbuatanku dan aku tak bisa mengelak. Jadi apa yang akan aku lakukan? Bersiap menemui Tuhan dan berharap masuk ke surgaNya. Faham?"
==========
Uraian ini dikatakan oleh Muhammad Ali pada saat usianya baru 35 tahun dan masih di puncak kejayaannya. Ketika ia mulai terkena penyakit Parkinson, ia berkata, "Hidup ini adalah ilusi. Aku menaklukkan dunia tapi tak membuatku puas. Tuhan memberikan penyakit ini untuk mengingatkanku bahwa aku BUKANLAH yg nomer satu, melainkan DIA.

CINTA KITA TIDAK SEMPURNA

CINTA KITA YANG TIDAK SEMPURNA
Aku ingat hari pertama kita sebagai suami-istri. Aku memandangmu yang masih tertidur. Aku memandangmu dengan segenap keraguan yang masih menguasai diriku. Benarkah kamu yang akan menemani hari-hariku sampai aku tua nanti? Akankah kamu menjadi satu-satunya orang yang kucintai hingga aku mati?
Aku mengambil nafas, memberi jarak pada diriku sendiri, dan membiarkanmu tetap terlelap untuk beberapa saat. Aku berjalan ke luar kamar, mencoba menggambar ulang keyakinan yang pelan-pelan jadi samar. Aku duduk di kursi dekat jendela. Menghitung dan memisahkan impian dari kemungkinan-kemungkinan…
Beberapa saat kemudian, kamu sudah berdiri di pintu kamar. Dengan gaun tidur satin yang tampak masih baru, kamu tersenyum. Rambutmu berantakan. Jika ada hal yang paling tak bisa kukendalikan dari diriku sendiri, barangkali itu adalah tentang membalas senyummu. Entah bagaimana senyummu selalu memiliki kekuatan tersendiri yang bekerja secara misterius di dalam diriku, begitu magis sekaligus puitis…. Tak bisa kutolak.
“Kemarilah!” Ujarku perlahan. Melambaikan tangan.
Kemudian kamu berjalan mendekat. Dalam hati aku menghitung langkah-langkahmu… Langkah pertama, kamu begitu cantik bahkan ketika baru saja bangun dari tidurmu. Langkah kedua, kamu begitu cantik bahkan tanpa gaun, anting-anting, tas tangan, sepatu hak tinggi, atau apapun yang biasa kamu kenakan. Langkah ketiga, kamu begitu cantik meskipun kamu tak menyadarinya. Langkah keempat, kamu begitu cantik bahkan ketika kamu tak memercayainya. Langkah kelima, kamu begitu cantik meski tak ada orang lain yang pernah mengatakannya kepadamu. Lalu kamu duduk di dekatku… Menyenderkan kepalamu di bahuku.
Aku luluh. Aku membelai rambutmu.
Hari itu, hari pertama kita sebagai suami-istri, tanpa kamu tahu kegelisahan dan keraguan-keraguanku, kita habiskan waktu dengan berbagi cerita-cerita yang menyenangkan. Tentang seorang tamu yang berpakaian aneh di pesta perkawinan kita. Tentang orang-orang yang tak kita kenal tetapi terlihat begitu akrab menyalami kita. Tentang segala hal yang layak kita reka ulang dalam ingatan… segala hal yang mungkin kita tertawakan.
Apakah kamu juga gelisah dan ragu waktu itu? Sama sepertiku?
Hari demi hari berlalu. Kita tumbuh menjadi suami istri yang barangkali menyimpan kegelisahan dan keraguan kita masing-masing. Kita menyimpannya baik-baik di dalam diri kita. Kita menutupnya rapat-rapat di bagian tersembunyi dalam perasaan kita. Kita bersikap seolah segalanya biasa saja dan baik-baik saja. Hingga kita sampai pada momen itu…
Pertengkaran pertama.
Aku masih ingat ketika kamu menangis karena tersinggung oleh kata-kataku. Aku mengingatnya dengan jelas. Aku merekam semuanya dengan jelas. “Kamu nggak ngerti perasaanku!” Katamu. “Kamu yang nggak ngerti perasaanku!” Bentakku. Bagaimana kita bisa saling mengerti perasaan kita masing-masing, jika memang ada yang kita sembunyikan dalam diri masing-masing?
Tiba-tiba segala hal tentang hubungan kita menjadi berubah. Kamu ternyata tak selalu terlihat cantik, apalagi saat keluar dari kamar mandi dengan busa pasta gigi yang masih menempel di pipi. Kamu ternyata tak menyukai hobiku. Kamu ternyata menertawakan selera musikku. Kamu ternyata menganggap remeh hal-hal yang kubanggakan. Kita ternyata punya standard-standard peniliaian dan sudut pandang yang berbeda tentang harga, tentang warna, tentang bau, atau apa saja.
Ternyata, cinta kita tidak sempurna.
Namun, kemudian kita menemukan sebuah sofa yang sama-sama kita sukai. Sofa yang begitu pas ketika kita berdua duduk di sana. Kita menemukan candaan-candaan yang bisa membuat kita sama-sama tertawa. Kita menemukan acara televisi atau film-film yang membuat kita bisa menghabiskan malam berdua. Kamu membuatkan kue cokelat kesukaanku. Aku menyuapimu. Hingga kita mengantuk… dan tertidur.
Keesokan harinya kita sudah siap jalan-jalan. Aku mengemudikan kendaraan dan kamu jadi navigatornya. Kita bernyanyi senpanjang perjalanan. Tetapi, kita juga bertengkar di sepanjang perjalanan. Karena kamu salah membaca peta. Karena aku belok kiri padahal kamu bilang belok kanan. Karena kita berselisih soal di mana kita harus berhenti makan. Karena kamu lupa soal kunci rumah. Karena aku menyetir terlalu kencang dan kamu mengomentari semuanya. Karena kita belum dewasa…
Apakah pernikahan ini keputusan yang benar? Apakah kamu orang yang tepat? Mungkin diam-diam kamu juga pernah memikirkan dua pertanyaan yang sama.
Tetapi kita memilih untuk meneruskan perjalanan. Aku tetap memegang kemudi dan kamu jadi navigatornya. Perlahan aku mulai mengerti bahwa saat kamu mengatakan belok kiri, mungkin sebenarnya itu belok kanan. Lama-lama aku tahu saat aku bertanya “Mau makan di mana?” dan kamu jawab “Terserah” itu sama artinya dengan “Kalau ada sate Padang kayaknya enak juga.” Dan kita mulai saling menghargai selera musik masing-masing dan memaklumi kemampuan vokal masing-masing. Kita mulai menikmati perjalanannya dan memaafkan semua detil-detil tidak sempurna di sekeliling diri kita.
Ternyata, cinta kita menjadi dewasa dengan sendirinya.
Kemudian kita punya anak, kemudian kita membeli rumah baru, kemudian kita belajar untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. Kemudian kita menjadi sepasang manusia yang saling jatuh cinta lagi… Secara lebih sadar. Kemudian kita jadi tahu bahwa cinta bukanlah tetang sesuatu atau seseorang yang kita harap-harapkan, cinta bukanlah sesuatu yang mesti kita terka-terka… Cinta adalah sesuatu atau seseorang yang harus kita terima, cinta adalah sesuatu yang harus kita jalani.
Maka, kini, Sayangku, aku mencintaimu dengan cara ini: Aku mencintaimu dengan cara berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada pada dirimu dan memaafkan semua hal buruk yang ada pada dirimu.
Dengan begitu aku tak memiliki keraguan-keraguan lagi tentang dirimu. Aku tak memiliki kegelisahan-kegelisahan lagi tentang pernikahan kita. Sebab bersamamu aku memilih untuk menjadi dewasa… Bersamamu, aku memilih untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi setiap harinya.
Demikianlah aku mencintaimu, begitu mencintaimu, meski tak setiap hari…
Selamat ulang tahun, Istriku. Demikianlah lampu sudah kuredupkan, musik sudah kupelankan, dan aku berbisik di telingamu: Terima kasih atas segalanya. Terima kasih karena kau telah menjadi dirimu. Terima kasih untuk cinta kita yang tidak sempurna… Yang membuatnya tak tergantikan.
Jakarta, 9 Juni 2016
Dari suamimu,
FAHD PAHDEPIE
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...