Kamis, 19 April 2012

Mengelola Emosi

yups, karena ada tugas dari mata kuliah bahasa indonesia tadi, akhirnya saya pingin ngepost lagi.


Pada suatu ketika, Budi, seorang pemilik perusahaan textil menampar seorang karyawan wanita, wina. Siang itu mereka terlibat pertengkaran setelah pertemuan selesai. Setelah semua pimpinan perusahaan kembali ke ruang kerja masing-masing, Budi memerintahkan wina untuk tetap di ruang meeting karena ada permasalahan yang harus diselesaikan. Wina adalah  seorang akuntan di perusahaan tersebut. Wina membuat kesalahan sedikit dalam penghitungan keuangan perusahaan yang akhirnya si bos memarahinya mulai dari permasalahan yang sebenarnya hingga mengungkit masalah-masalah lain yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.

Wina tetap sabar mendengarkan ocehan si bos namun akhirnya si bos mulai  mengatakan hal-hal yang tidak enak sementara wina membantah ia tidak pernah melakukan hal tersebut yaitu memanipulasi laporan keuangan perusahaan. Tentu saja wina yang sejak tadi terlihat santai kini berbalik marah. Karena keduanya sama-sama keras kepala akhirnya si bos menampar wina. Satu minggu kemudian wina menuntut bosnya dengan tuduhan penganiayaan perempuan. Setelah itu wina mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.

Mengapa hal tersebut sampai terjadi ? budi adalah seorang yang berpendidikan dan berpengalaman, demikian pula wina. Keduanya memiliki taraf kecerdasan yang tinggi. Jika mereka memikirkan apakah yang akan terjadi jika mereka berdua saling marah maka hal di atas tidak terjadi karena sebenarnya persoalan tersebut dapat diselesaikan dengan kepala dingin tanpa merugikan keduanya.

Dari cerita di atas kita dapat melihat bahwa kecerdasan  tidak menjamin emosi yang baik dan terarah. Tidak semua orang memiliki kemampuan mengelola emosi yang baik. Ada orang pandai dengan kemampuan mengola emosi yang baik. Kemampuan seseorang dalam mengola hidangan emosinya dapat membantu seseorang berhasil dalam kehidupan di berbagai bidang, sementara orang lain dengan IQ yang tinggi sekalipun jika tidak dapat mengolah dan mengatasi emosi maka ia akan mengalami stress berat dan kemandekan (stagnasi).

Bagaimana emosi itu bisa muncul? Yang jelas ia datang begitu saja. Tanpa perencanaan “strategis” berupa tujuan dan strategi emosi seperti “hei emosi datanglah padaku!”. “ Akan kuhadapi kau secara taktis”. Lalu apakah emosi dapat memaksa anda untuk berbuat sesuatu? Tidak juga. Yang terjadi, emosi dapat mengarahkan pada kita untuk melakukan sesuatu. Emosi dapat merangsang  pikiran dan kreasi baru, daya hayal baru, dan tingkah laku baru. Mengapa? Karena emosi itu datang sebagai refleksi atau tanggapan atas kejadian tertentu yang dihadapi seseorang.
                
         Emosi ada yang menyenangkan dan ada pula yang menyedihkan. Ada yang enak, ada pula yang menyebalkan. Coba Anda rasakan sendiri. Emosi dapat menghalangi hubungan harmonis dengan orang lain, kalau kita sedang marah dan benci. Sebaliknya emosi mampu sebagai perekat hubungan yang semakin aduhai nyamannya, misalnya karena rasa kasih sayang dan cinta yang diterima dari orang lain. Tetapi yang jelas daya tanggap tentang emosi akan berbeda antara individu yang satu dan yang lainnya. Ada  yang emosi begitu bergelora, ada juga yang tenang-tenang, bahkan ada yang dingin saja kalau menghadapi kejadian tertentu.  Karena itu emosi dapat memiliki kekuatan untuk membangun dan bisa juga merusak diri sendiri dan orang lain. Untuk mengelola dan mengatasi emosi ini diperlukan suatu kecerdasan atau kita sebut dengan kecerdasan emosional.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan diri/hati, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati, dan berdoa. Bila suatu permasalahan muncul dengan intensitas yang cukup berat pertama-tama kita persiapkan diri kita. Diri kita menyadari (recognize) mengenal perasaan yang pada saat itu muncul pada diri kita dan mulailah mengenali diri anda dengan mengatasi emosi tersebut dan bukan emosi yang mengendalikan diri kita.

Contohnya jika saat itu kekasih memutuskan anda,  dan anda tidak menerima keputusan sepihak tersebut namun apadaya berbagai cara telah dilakukan untuk membuat anda berdua rujuk kembali tidak berhasil. Maka saat itu yang harus anda lakukan adalah bangkitlah. Sedih boleh tetapi hanya untuk sesaat. Setelah anda bangkit kuasailah diri anda dari masalah tersebut yang kemungkinan suatu hari akan muncul kembali. Janganlah murung atau menyendiri, jangan tertutup dan bersembunyi di dalam rumah. Keluarlah dari “dunia” anda karena masih banyak hal penting yan harus anda kerjakan. Mulai membina suatu hubungan atau relasi dengan orang lain yang dapat meluaskan pergaulan anda, meluaskan pandangan anda, dan belajar berempati pada orang lain agar anda lebih dicintai oleh lingkungan sekitar anda. Jika telah mampu melewati suatu permasalahan pertahankanlah perasaan bahagia anda dan jika suatu hari anda mengalami masalah serupa atau masalah-masalah lain pecahkanlah dengan kepala dingin dan kreatif dalam memecahkan masalah anda
           
Nah, lalu bagaimana mengelola emosi seoptimum mungkin? Berikut beberapa tips kecil yang mungkin dapat dipakai :
·       Berpikir positiflah pada emosi terutama emosi yang bercorak buruk, gali dan ambil hikmah kejadian tersebut.
·         Pandanglah emosi itu sebagai salah satu jalur untuk mengenali dan memperbaiki diri sendiri dan membantu orang lain.
·    Emosi jangan disimpan sendiri tetapi ungkapkanlah kepada orang-orang terdekat untuk berbagi simpati dan empati
·      Emosi, khususnya yang bersifat negatif, jangan didiamkan apalagi dipelihara tetapi diolah menjadi potensi kekuatan untuk mengembangkan diri

Monggo-monggo yang mau share ilmu mengenai kendali emosi :D silahkan komen

source :
http://refleksiteraphy.com/?m=artikel&page=detail&no=68
http://ronawajah.wordpress.com/2010/04/06/mengelola-emosi/

4 komentar:

  1. nice :)
    saya senang mengikuti postingan anda
    postingan yang menarik .

    salam kenal yya dan sempatkan mampir ke
    website kami.

    BalasHapus
  2. kecerdasan intelektual kadang tidak berbanding sejajar dengan kecerdasan emosional, tapi sekarang banyak koq seminar tentang EQ, karena katanya sih EQ lebih menentukan kesuksesan seseorang daripada IQ :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. howh... tq mbak sharenya..
      iya aku baca-baca EQ pengaruhnya lebih besar dari IQ

      Hapus
  3. i love ur post, keep share^^
    mampir balik ke website kami yaa...
    berbagi pada sesama dengan mengunjungi http://hapeduli.hajarabis.com/

    BalasHapus

have a question, just spill it :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...