Rabu, 29 Agustus 2012

Jiwa Manusia Seperti Gelas Kosong, Benarkah??

"Manusia ibarat gelas kosong.. Dituang kopi isinya menghitam, dituang air putih menjadi beninglah ia. Tetapi segelap apapun gelas kopi itu, ia akan kembali bening jika terus menerus dituang air putih, begitulah sebaliknya.."

Yang terakhir gak setuju ...
Jika air putih dituang air kopi walau itu hanya setetes, pasti akan mengubah warna dari air putih tersebut, menjadi keruh, sampai akhirnya menjadi hitam bak kopi tadi .....
Manusia kalau diajak ke kejahatan sekali saja dan terpengaruh, meskipun awalnya mencoba-coba tapi lama kelamaan jadi kebiasaan akhirnya menjadi keruh bak kopi @@
untuk menjadikannya putih kembali, agak sukar, harus dituang air putih berkali-kali
aku setuju dengan pendapat seperti ini, namun ternyata ada yang berpendapat lain.

Manusia berbeda dengan air, ataupun gelas. Ketika dituangkan air/kopi/lain-lain, ia tidak memiliki freewill untuk memilih untuk bereaksi atas apa yang terjadi. Sedangkan manusia memiliki freewill untuk memilih reaksi dia.

Berbeda dengan air putih yang dituangkan kopi, walau hanya setetes pasti akan warnanya akan berubah. Dan, mungkin memang agak sulit untuk mengubahnya kembali. Dan, semuanya, harus ada "pihak eksternal" yang mengubahnya. Ia tidak mungkin bisa berubah dengan sendirinya, karena ia benda mati.

Tetapi, berbeda dengan manusia. Meski melakukan kesalahan, atau bahkan mencoba untuk menjadi "jahat", bukan berarti ia akan berubah selamanya menjadi jahat, dalam arti sebenarnya.

Meski melakukan kesalahan, manusia masih bisa memilih untuk mengakui dan memperbaiki kesalahannya. Atau malah sebaliknya.
Pun, dengan mencoba menjadi "jahat". Ia bisa memilih untuk tetap melakukannya saat ia tahu akibat yang ia perbuat. Ataukah berhenti dan menjadi lebih baik.

Jadi, aku ga setuju secara keseluruhan dengan pernyataan yang di atas. ^^

Terus, kalau air dituang dengan lawannya terus menerus mungkin saja akan berubah warna, belum tentu halnya manusia.

Ada manusia yang meski terus-terusan di-siksa tapi imannya tetap kuat. Ada pula manusia yang meski udah "disadarkan" dengan cara apapun, dan bahkan dikelilingi oleh lingkungan yang benar-benar positif, meski ia tidak didukung oleh lingkungannya, tetap saja masih "rusak" pribadinya.

Itu semua karena manusia memiliki freewill, untuk memilih akan menjadi orang seperti apakah ia. Sedangkan air/gelas, tidak. Benda mati tidak dikarunia-i dengan freewill. Ia terikat total dengan hukum2 alam a.k.a sunnatullah yang mengaturnya.

*nb, GA mbak nufa yang gak kesampaian.
Alhamdulillah, laptop sudah bisa nyala kembali setelah sempat hangus, akhirnya digantiin mainboardnya. #masihgaransi.

5 komentar:

  1. analogi gelas kosong yah sobs..
    jdi ingat GA yang diadain sma mbak Fadila kemarin tentang ini juga... malah saya sempat ikut berpartisipasi.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah ini emang draft yang belum sempat publish -__-
      rencananya emang ikutan GA nya mbak nufa.

      Hapus
  2. mesakke gak sempet melu... laptop mu mesti sering dianiaya main game seharian :p *nuduh*

    intinya ya selain ada "pemicu" dari luar, bersih kotornya hati juga tergantung kemauan dari dalam manusia itu sendiri. tapi, tetep pengaruh dari luar bisa ikut mengubah.

    BalasHapus
  3. salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
    Bersabarlah dalam bertindak agar membuahkan hasil yang manis.,.
    ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

    BalasHapus

have a question, just spill it :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...