Jumat, 20 Juli 2012

Ratapan Gadis Kecil

Dengan rambut terurai yang kusut masai, seorang gadis kecil berlari-lari sambil menangis mengikuti jenazah ayahnya yang diusung menuju tempat pemakaman.

Melihat iring-iringan jenazah lewat depan rumahnya, Hasan Al Basri yang duduk di depan pintu bangkit dan bergabung dalam iring-iringan itu.
"Ayah, mengapa begitu singkat umurmu?" ratap gadis kecil itu mengikuti iring-iringan itu.
Hasan Al Basri melihat keadaan gadis itu hatinya merasa trenyuh, perasaannya menjadi iba. Takdir telah menentukan bahwa gadis sekecil itu harus kehilangan bapak, padahal gadis seumurnya sangat memerlukan perlindungan dan bimbingan seorang bapak.

Esok harinya, ketika Hasan Al Basri kembali duduk di muka pintu seperti hari kemarin, gadis kecil itu lewat lagi. Gadis itu berlari-lari kecil sambil meratap dan menangis menuju makam ayahnya. Hal itu membuat Hasan Al Basri mengikutinya dari belakang. Ia ingin tahu apa yang akan diperbuat oleh gadis kecil itu.

Setiba dipemakaman, Hasan Al Basri melihat gadis kecil itu memeluk makam ayahnya, pipinya diletakkan diatas gundukan tanah sambil meratap-ratap.

Dari persembunyiannya Hasan Al Basri selalu mengikuti apa yang dilakukan gadis kecil itu, dan ia mendengar apa yang diucapkannya.

"Ayahh, malam ini engkau sendirian terbaring dalam kegelapan kubur, tanpa lampu penerangan dan penghibur. Jika malam kemarin, aku masih bisa menyalakan penerangan untukmu. Tapi sekarang, siapakah yang menerangimu, dan siapa pula yang menghiburmu? Ayah, malam kemarin aku masih bisa menggelarkan tikar untuk alas tidurmu, tapi sekarang siapakah yang menggelarkan tikar untukmu? Jika malam-malam kemarin aku bisa memijiti tangan dan kakimu, sekarang siapakah yang memijitimu?" terdengar memilukan ratap gadis kecil itu. Hasan Al Basri yang mendengarkan dari tempat persembunyian menjadi trenyuh.

"Ayah, jika kemarin aku yang menyelimuti tubuhmu, tetapi kini siapa yang menyelimutimu tadi malam," kembali terdengar  suara gadis itu diantara isak tangisnya. "Kemarin engkau masih bisa memanggilku, Ayah, dan aku menjawab untukmu, tetapi semalam siapa yang engkau panggil dan siapa pula yang menjawabmu?"

"Ayah, jika kemarin engkau minta makan dan aku yang melayani, apakah kau semalam minta makan? dan siapa pula yang melayanimu? Dulu aku yang selalu memasak makanan untukmu, tetapi kemarin siapa yang memasak untukmu?"

Karena tak tahan mendengar ratapan-ratapan mengharukan gadis kecil diatas makam ayahnya itu, tak terasa air matanya menetes jatuh karena haru.

"Anakku, janganlah kau mengucap seperti itu," kata Hasan Al Basri keluar dari persembunyian dan berusaha menenangkan hati gadis kecil itu."Seharusnya ucapkanlah kata-kata seperti ini: Ayah, kau telah kukafani dengan kain yang bagus, masihkah kau memakai kain kafan itu? Dan kata orang shaleh, bahwa kain kafan orang yang telah meninggal ada yang diganti dengna kain kafan surga dan ada pula yang dari neraka. Kain kafan mana yang ayah kenakan sekarang?"

Ayah, kemarin aku telah meletakkan tubuhmu yang segar bugar dalam kubur, masih bugarkah tubuhmu hari ini?"

Gadis kecil itu terus saja mendengarkan ucapan yang dicontohkan Hasan Al Basri tanpa henti.

"Ayah, orang-orang alim mengatakan bahwa semua hamba besok ditanya tentang imannya. Diantara mereka ada yang bisa menjawab, tetapi ada juga yang diam membisu. Yang kupikirkan, apakah ayah bisa menjawab atau hanya membisu?"

Ayah, katanya bahwa kuburan itu bisa dibuat menjadi luas dan sempit. Bagaimana kuburan ayah sekarang, bertambah luas ataukah bertambah menyempit? Dan kuburan itu katanya merupakan secuil taman dari surga, tetapi bisa juga merupakan sebuah lubang dari lubang neraka. Yang menjadi pikiranku, bagaimana kuburan ayah sekarang? Taman surga atau lubang neraka?

Ayahku, katanya bahwa liang kubur bisa menghangati mayat dengan memeluknya seperti pelukan ibu terhadap anakanya, tetapi bisa juag merupakan lilitan erat yang meremukkan tulang. Bagaimana keadaan tubuh ayah sekarang? Jangan-jangan ayah terhimpit lubang kubur.

Ayah, orang shaleh mengatakan, orang dikebumikan itu ada yang menyesal mengapa dulu semasa hidupnya tak memperbanyak amalan bagus, justru menjadi pendurhaka, dan banyak melakukan maksiat. Yang kutanyakan pada ayah, apakah engkau termasuk orang yang menyesali karena perbuatan maksiat atau menyesal karena melakukan sedikit amal kebagusan?

Ayah, dulu setiap aku memanggilmu engkau selalu menjawab, tetapi kini engkau kupanggil-panggil tak lagi mau menjawabku. Kini engkau telah berpisah denganku, dan tak akan berjumpa sampai hari kiamat. Semoga Allah tak menghalangi perjumpaanku denganmu

Demikianlah beberapa nasihat Hasan Al Basri yang disampaikan kepada gadis kecil itu dalam meratapi ayahnya yang sudah meninggal.

"Sungguh baik nasehat Bapak, aku sangat berterima kasih sekali," kata gadis itu

Kemudian Hasan Al Basri mengaja gadis kecil itu pulang meninggalkan kuburan ayahnya.

4 komentar:

  1. solusi pengen sukses
    http://beenero11.com/?id=yudha
    kontak person
    yudha
    ngrayudan@gmail.com

    BalasHapus
  2. Keren postingannya :D

    Mohon difollowback, thx :)

    BalasHapus
  3. makasih sudah mau berbagi kisah gadis kecil ini, kalau kisah nabi2 yang terdahulu ada ga Rif?

    BalasHapus

have a question, just spill it :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...