Selasa, 14 Juni 2016

CINTA KITA TIDAK SEMPURNA

CINTA KITA YANG TIDAK SEMPURNA
Aku ingat hari pertama kita sebagai suami-istri. Aku memandangmu yang masih tertidur. Aku memandangmu dengan segenap keraguan yang masih menguasai diriku. Benarkah kamu yang akan menemani hari-hariku sampai aku tua nanti? Akankah kamu menjadi satu-satunya orang yang kucintai hingga aku mati?
Aku mengambil nafas, memberi jarak pada diriku sendiri, dan membiarkanmu tetap terlelap untuk beberapa saat. Aku berjalan ke luar kamar, mencoba menggambar ulang keyakinan yang pelan-pelan jadi samar. Aku duduk di kursi dekat jendela. Menghitung dan memisahkan impian dari kemungkinan-kemungkinan…
Beberapa saat kemudian, kamu sudah berdiri di pintu kamar. Dengan gaun tidur satin yang tampak masih baru, kamu tersenyum. Rambutmu berantakan. Jika ada hal yang paling tak bisa kukendalikan dari diriku sendiri, barangkali itu adalah tentang membalas senyummu. Entah bagaimana senyummu selalu memiliki kekuatan tersendiri yang bekerja secara misterius di dalam diriku, begitu magis sekaligus puitis…. Tak bisa kutolak.
“Kemarilah!” Ujarku perlahan. Melambaikan tangan.
Kemudian kamu berjalan mendekat. Dalam hati aku menghitung langkah-langkahmu… Langkah pertama, kamu begitu cantik bahkan ketika baru saja bangun dari tidurmu. Langkah kedua, kamu begitu cantik bahkan tanpa gaun, anting-anting, tas tangan, sepatu hak tinggi, atau apapun yang biasa kamu kenakan. Langkah ketiga, kamu begitu cantik meskipun kamu tak menyadarinya. Langkah keempat, kamu begitu cantik bahkan ketika kamu tak memercayainya. Langkah kelima, kamu begitu cantik meski tak ada orang lain yang pernah mengatakannya kepadamu. Lalu kamu duduk di dekatku… Menyenderkan kepalamu di bahuku.
Aku luluh. Aku membelai rambutmu.
Hari itu, hari pertama kita sebagai suami-istri, tanpa kamu tahu kegelisahan dan keraguan-keraguanku, kita habiskan waktu dengan berbagi cerita-cerita yang menyenangkan. Tentang seorang tamu yang berpakaian aneh di pesta perkawinan kita. Tentang orang-orang yang tak kita kenal tetapi terlihat begitu akrab menyalami kita. Tentang segala hal yang layak kita reka ulang dalam ingatan… segala hal yang mungkin kita tertawakan.
Apakah kamu juga gelisah dan ragu waktu itu? Sama sepertiku?
Hari demi hari berlalu. Kita tumbuh menjadi suami istri yang barangkali menyimpan kegelisahan dan keraguan kita masing-masing. Kita menyimpannya baik-baik di dalam diri kita. Kita menutupnya rapat-rapat di bagian tersembunyi dalam perasaan kita. Kita bersikap seolah segalanya biasa saja dan baik-baik saja. Hingga kita sampai pada momen itu…
Pertengkaran pertama.
Aku masih ingat ketika kamu menangis karena tersinggung oleh kata-kataku. Aku mengingatnya dengan jelas. Aku merekam semuanya dengan jelas. “Kamu nggak ngerti perasaanku!” Katamu. “Kamu yang nggak ngerti perasaanku!” Bentakku. Bagaimana kita bisa saling mengerti perasaan kita masing-masing, jika memang ada yang kita sembunyikan dalam diri masing-masing?
Tiba-tiba segala hal tentang hubungan kita menjadi berubah. Kamu ternyata tak selalu terlihat cantik, apalagi saat keluar dari kamar mandi dengan busa pasta gigi yang masih menempel di pipi. Kamu ternyata tak menyukai hobiku. Kamu ternyata menertawakan selera musikku. Kamu ternyata menganggap remeh hal-hal yang kubanggakan. Kita ternyata punya standard-standard peniliaian dan sudut pandang yang berbeda tentang harga, tentang warna, tentang bau, atau apa saja.
Ternyata, cinta kita tidak sempurna.
Namun, kemudian kita menemukan sebuah sofa yang sama-sama kita sukai. Sofa yang begitu pas ketika kita berdua duduk di sana. Kita menemukan candaan-candaan yang bisa membuat kita sama-sama tertawa. Kita menemukan acara televisi atau film-film yang membuat kita bisa menghabiskan malam berdua. Kamu membuatkan kue cokelat kesukaanku. Aku menyuapimu. Hingga kita mengantuk… dan tertidur.
Keesokan harinya kita sudah siap jalan-jalan. Aku mengemudikan kendaraan dan kamu jadi navigatornya. Kita bernyanyi senpanjang perjalanan. Tetapi, kita juga bertengkar di sepanjang perjalanan. Karena kamu salah membaca peta. Karena aku belok kiri padahal kamu bilang belok kanan. Karena kita berselisih soal di mana kita harus berhenti makan. Karena kamu lupa soal kunci rumah. Karena aku menyetir terlalu kencang dan kamu mengomentari semuanya. Karena kita belum dewasa…
Apakah pernikahan ini keputusan yang benar? Apakah kamu orang yang tepat? Mungkin diam-diam kamu juga pernah memikirkan dua pertanyaan yang sama.
Tetapi kita memilih untuk meneruskan perjalanan. Aku tetap memegang kemudi dan kamu jadi navigatornya. Perlahan aku mulai mengerti bahwa saat kamu mengatakan belok kiri, mungkin sebenarnya itu belok kanan. Lama-lama aku tahu saat aku bertanya “Mau makan di mana?” dan kamu jawab “Terserah” itu sama artinya dengan “Kalau ada sate Padang kayaknya enak juga.” Dan kita mulai saling menghargai selera musik masing-masing dan memaklumi kemampuan vokal masing-masing. Kita mulai menikmati perjalanannya dan memaafkan semua detil-detil tidak sempurna di sekeliling diri kita.
Ternyata, cinta kita menjadi dewasa dengan sendirinya.
Kemudian kita punya anak, kemudian kita membeli rumah baru, kemudian kita belajar untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. Kemudian kita menjadi sepasang manusia yang saling jatuh cinta lagi… Secara lebih sadar. Kemudian kita jadi tahu bahwa cinta bukanlah tetang sesuatu atau seseorang yang kita harap-harapkan, cinta bukanlah sesuatu yang mesti kita terka-terka… Cinta adalah sesuatu atau seseorang yang harus kita terima, cinta adalah sesuatu yang harus kita jalani.
Maka, kini, Sayangku, aku mencintaimu dengan cara ini: Aku mencintaimu dengan cara berhenti mengandaikan semua hal baik yang tak ada pada dirimu dan memaafkan semua hal buruk yang ada pada dirimu.
Dengan begitu aku tak memiliki keraguan-keraguan lagi tentang dirimu. Aku tak memiliki kegelisahan-kegelisahan lagi tentang pernikahan kita. Sebab bersamamu aku memilih untuk menjadi dewasa… Bersamamu, aku memilih untuk menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi setiap harinya.
Demikianlah aku mencintaimu, begitu mencintaimu, meski tak setiap hari…
Selamat ulang tahun, Istriku. Demikianlah lampu sudah kuredupkan, musik sudah kupelankan, dan aku berbisik di telingamu: Terima kasih atas segalanya. Terima kasih karena kau telah menjadi dirimu. Terima kasih untuk cinta kita yang tidak sempurna… Yang membuatnya tak tergantikan.
Jakarta, 9 Juni 2016
Dari suamimu,
FAHD PAHDEPIE

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

have a question, just spill it :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...